Pada hari Arafah dianjurkan untuk berpuasa dengan keutamaan yang sangat besar yaitu digugurkannya dosa-dosa setahun sebelum dan setahun sesudahnya. Tentunya ini tidak berarti kita bebas melakukan dosa karena tentunya kita juga harus khawatir apabila puasa kita tidak diterima. Dan kalaupun puasa kita diterima dan dosa-dosa kita digugurkan tentu kita harus bersyukur kepada Allah dengan melakukan ketaatan bukan malah mengingkari ni’mat tersebut dengan berbuat kemaksiatan. Disebutkan juga bahwa dosa-dosa yang digugurkan adalah dosa-dosa yang kecil, maka kita khawatir jika kita melakukan dosa besar, kita harus segera bertaubat. Dalam hidup kita mungkin sering kita terjerumus dalam dosa-dosa yang sulit kita hindari, tentu kita berharap dengan puasa ini menjadi salah satu kesempatan kita untuk memperoleh ampunan. Termasuk amal shaleh yang paling dianjurkan pada waktu ini adalah berpuasa pada hari ‘Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah)[2], bagi yang tidak sedang melakukan ibadah haji[3], karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang puasa pada hari ‘arafah, beliau bersabda, أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ “Aku berharap kepada Allah puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) di tahun yang lalu dan tahun berikutnya.”[4] [4] HSR Muslim (no. 1162).