Aku, disini aku memandang berkata atau berucap atas nama sebuah hati, jiwa ini hati ini adalah puisi atau perjalanan sang hati, apa yg aku cintai dan apa yg aku rasakan yg terindah di kala aku sampai menangis dan yg sesaat adalah di kala aku tertawa berteriak atau pada saat aku melantunkan lagu lagu cinta itu, dia mereka kamu kalian adalah kamu bukan aku,tapi aku hatiku jiwaku perasaanku sebagian untuk mereka hatinya, kita bersedih berasama tertawa bersama menangis bersama dan yg paling aku suka dari kalian adalah kita saling beriringan untuk meninju kokohnya dan menghadang hantaman bumi dan langit ini…terpa’an angin, cipratan air, dan tebaran debu – debu itu. Triaklah ….triaklah…triaklah…, asal jangan gantungkan tasbihmu..karna tebaran tasbih..tasbih itu yg akan meregangkan urat – urat wajahmu itu menjadi sebuah senyuman yg tulus dan jujur.

cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tiada memiliki, pun tiada ingin dimiliki; Karena cinta telah cukup bagi cinta.

Pabila kau mencintai kau takkan berkata, “Tuhan ada di dalam hatiku,” tapi sebaliknya, “Aku berada di dalam hati Tuhan”.

Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya Cinta, sebab cinta, pabila dia menilaimu memang pantas, mengarahkan jalanmu.

Cinta tak menginginkan yang lain kecuali memenuhi dirinya. Namun pabila kau mencintai dan terpaksa memiliki berbagai keinginan, biarlah ini menjadi aneka keinginanmu: Meluluhkan diri dan mengalir bagaikan kali, yang menyanyikan melodinya bagai sang malam.