Archive for Juni 20th, 2008

Mengapa Syariat harus bermusuhan dengan Hakikat ?

Mengapa Syariat harus bermusuhan dengan Hakikat ?
Posted by netlog in Mengapa Syariat kontra Hakekat.

Selama ini diasumsikan bahwa antara syariآ’ah dengan tasawuf merupakan dua sisi ang selalu dihadapkan secara vis a vis. Fanatisme syariآ’ah (baca : fuqaha) memandang haramآ” atas praktik tasawuf dengan berbagai dalil dan argumentasi, baik secara naql maupun nalar. Sementara para pelaku tasawuf tidak ketinggalan dalam mengkritik para fuqaha yang hanya melihat hitam di atas putih dan formalitas belaka, tanpa menangkap essensi Islam. Rumor di kalangan masyarakat jawa, bahwa syaringat (bacaan orang jawa) itu dipahami nek sare njengat atau kata Mekah dipahami nek turu mekakah menjadi salah satu bukti kesenjangan antara syariat dan tasawuf.

Patut dicatat, bahwa insiden al-fitnah al-kubra yang menghantarkan jatuhnya Khalifah Ali dari ke-khilafah-an, diganti Muawiyah merupakan sumber utama bagi perpecahan kaum muslimin dalam berbagai sekte dan aliran.

Para analis sepakat bahwa, peristiwa ini awalnya bersifat politis, kemudian merembet kepada wilayah aqidah serta aspek-aspek keagamaan lainnya. Fenomena semacam ini pada akhirnya juga mewarnai hampir semua polemik di tubuh umat Islam yang mengatasnamakan agama.

Al-Hallaj (w. 309 H) diekskusi dengan dakwaan menyebarluaskan ajaran hulul dalam tasawuf. Ajaran itu diputuskan sesat oleh penguasa berdasar legitimasi para fuqaha mazhab dhahiriy.

Penentuan sesat atas pengalaman batin al-Hallaj jelas lebih bermuatan politis, karena keberpihakan al-Hallaj –sebagai seorang shufi agung yang sudah tidak ada ruang untuk membenci– kepada rakyat kecil dan kelompok marginal; seperti syiآ’ah, qaramithah serta non-muslim.

Di pula Jawa, kasus serupa dialami Syaikh Siti Jenar (Lemah Abang) yang didakwa menyebarkan ajaran manunggaling kawula Gusti, sehingga oleh para wali kerajaan saat itu divonis hukuman pancung. Dari sinilah akhirnya para fuqaha yang dimotori kepentingan politis penguasa menciptakan ketegangan yang tak berujung antara syariah dan tasawuf. Kebebasan para shufi dalam menaungi pengalaman batinnya serba diatur oleh hukum formal. Karena itu, image pemisahan syariah dan tasawuf pada mulanya lebih sebagai fenomena politisasi agama yang berimbas pada dichotomi dua unsur utama ajaran Islam tersebut oleh kalangan awam atau dijadikan senjati bagi para penguasa untuk mempertahankan status quo.

Distingsi kedua aspek penting dalam ajaran Islam tersebut sangat dimungkinkan, karena antara keduanya memiliki sisi yang jelas tidak dapat dipersamakan. Bahwa tasawuf itu lebih menempati wilayah batin atau hati, suatu daerah yang tak dapat ditembus oleh inderawi manusia. Wilayah ini bersifat immateri yang permanen. Ia hanya dapat diteropong melalui cahaya (nur) emanasi Tuhan ke dalam masing-masing qalbu manusia yang hanya dapat dideteksi melalui bashirah (mata hati). Sementara, syariah bersifat lahiriah yang legal-formal yang dapat ditangkap mata telanjang.

Integrasi syariah dengan tasawuf dengan demikian menjadi syarat mutlak bagi kesempurnaan seorang muslim. Syariah merupakan elaborasi dari kelima pilar Islam, sedangkan tasawuf berpangkal pada ajaran ihsan,

an-tabudallaha ka-annaka tarah, fa-in-lam takun tarah, fainnahu yarak,

hendaknya kalian beribadah (bersyariat) seakan-akan kamu milhat-Nya, jika tidak sesungguhnya Dia melihatmu.

Implikasinya, jika dalam syariat diwajibkan thaharah (bersuci) sebelum melaksanakan ibadah, maka untuk mampu menembus penglihtan Tuhan, tasawuf mewajibkan penyucian diri melalui pintu taubat.

Kemudian apabila seorang sedang shalat; syariat mengharuskan memenuhi syarat dan rukun, sementara tinjauan ihsan (shufistik) mengharuskan aktivitas hati yang tulus, hudlur dan khusyu. Semakin mendalam realisasi shufistik seseorang, pada gilirannya justeru semakin meningkatkan kualitas ke-Islam-an dan syariah orang tersebut dalam mencapai derajat muhsin.

Di sisi lain, penguatan aspek tasawuf juga akan menjadi dinamisator bagi jiwa seseorang. Kehadiran tasawuf mampu memicu ats-Tsaurah ar-Ruhiyyah (revolusi jiwa) dan menjadi spirit bagi pelakunya. Sebaliknya, syariat ibarat jalan yang akan dilalui shufi dalam ber-revolusi, Apabila terlalu banyak hambatan dan lobangannya jangan harap akan sampai pada terminal akhir. Secara eksplisit Allah swt sering menyitir bahwa, wa maa khalaqtul jinna wal-insa illa li-ya buduni,

Maknanya, bahwa penciptaan jin dan manusia hanyalah untuk marifat kepada-Nya. Marifat (pengenalan) mula-mula dengan secara inderawi (syariah), namun setelah semakin dekat relasi inderawi saja tentu belum cukup, maka muncullah pengalaman mahabbah (cinta), hulul, ittihad hingga wihdatul wujud dari para shufi.

Dalam firman-Nya yang lain, “wa lal-akhiratu khairun la-ka minal-ula” tidakkah, masa depan (akhirat, ihsan/tasawuf) lebih baik daripada yang permulaan (dunia, syariat).

Nilai-nila spirit tasawuf atas syariah juga dapat kita jumpai dalam setiap maqamat (station-station) dan ahwal para shufi, misalnya :

1. Taubat yang didasarkan atas firman Allah swt yaa ayyuhal-ladzina amanuu tuubuu ilallahi taubatan nashuhaآ”,akan menumbuhkan sikap konsekuen dan tanggung jawab seorang hamba;

2. Zuhud yang disandarkan atas firman-Nya wa kaanuu fi-hi minaz-ahidinآ”, akan meningkatkan kebesaran jiwa manusia;

3. Faqr yang disandarkan firman-Nya lil-fuqaraآ’il-ladzina uhshiruu fii sabiilillah..آ”akan membentuk jiwa yang kharismatik dan mengikis sikap oportunis;

4. Sabar yang didasarkan firman Allah innama yuwaffash-shaabiruuna ajrahum bi-ghairi hisabآ”, akan membentuk pribadi yang bermental baja;

5. Tawakkal yang bersumber dari firman Allah wa آ‘alallahi fal-yatawakkalil mutawakkilunآ”, akan membangun independensi seseorang,

6. Syukur fadzkuruu-ni adzkurkum, wasykuruu lii wa-laa takfurunآ”akan memberangus keserakahan seseorang;

7. dan lain-lain demikian seterusnya.

Integrasi syariat dan tasawuf juga nampak dari pertautan ajaran jihad dengan mujahadah. Jihad bersifat fisik, seperti berperang di medan pertempuran, memerangi tempat kemaksiatan serta perjuangan material lainnya. Sementara mujahadah lebih menekankan visi ruhani dalam menahan hawa nafsu, amarah serta penyakit hati lainnya. Kedua bentuk pertempuran di atas dalam Islam jelas tidak dapat dipilah-pilahkan antara satu dengan lainnya, karena justeru akan menjadi komplemen.

Wal-Hasil, syariah dan tasawuf sebetulnya merupakan dua sisi mata uang yang tak dapat dinegasikan dan dipertentangkan antara satu sisi dengan sisi lainnya. Penghadapan kedua sisi tersebut secara vis a vis, selain akan memperlihatkan kebodohan seseorang, juga memberikan indikasi adanya upaya politisasi Islam.

Karena itu, persoalan agama, sepanjang tidak dijadikan komoditas politik akan mendamaikan kehidupan manusia, tetapi jika sebaliknya akan nampak keras dan tidak membawa kesejahteraan. Mereka yang termasuk kelompok terakhir, pasti bukan tipologi shufi. Tasawuf dengan demikian mampu menjadi muara bagi semua madzhab (sekte) yang bertebaran di bidang syariah, baik di kalangan sunni, syii, mutazili maupun lainnya. Bahkan syariat lintas agama pun mampu bersarang dalam tasawuf. Inilah essensi dan substansi Islam.

Wallohu a’lam bish-showab,-

Add comment Juni 20, 2008

Menyuap Malaikat-Membeli Surga!

Menyuap Malaikat-Membeli Surga!
Posted by netlog in Menyuap Malaikat-Membeli Surga!.

Oleh: Nasrulloh Afandi

Jarang dikaji. Aktivitas آ“membeli surgaآ” adalah diantara fenomena cukup آ“ngetrendآ” mewabah frekuensi gelombang kemajemukan آ“simbolis religiusآ” bangsa kita dasawarsa ini. Identiknya, ironisme berasumsi bisa آ“menyuap Malaikat Rokibآ” sang pencacat amal ibadah, sekalian(berasumsi bisa) آ“mengelabuhi Malaikat Atidآ” sang pencatat segala macam kemaksiatan seluruh makhluk itu.

Hemat saya(pribadi). Hal itu, adalah geliat آ“pragmatisme ibadahآ”, konsekuensi dari dilematis(beragama) bagi Muslimin dalam menghadapi kompleksnya fenomena tantangan globalisasi.

Esensinya, sebagai pelarian akibat semakin terpuruknya kualitas istiqomah(kontinuitas) beribadah, sedangkan aktivitas hidupannya over dosis memuja harta(hedonisme). Mereka(pelaku) panik, dan sedikit menyadari telah آ“terpolusinya keimanannyaآ”. Maka maraklah aktivitas آ“membeli surgaآ”, dianggap jalur pintas untuk menjauhi neraka.

آ“Makelar Surgaآ” Para artis dan para koruptor, yang mulutnya sering meletup-letup memproklamirkan diri katanya آ“cinta agamaآ”, mayoritas آ–-untuk dimaksud tidak semuanya– mereka itulah آ“Makelar surgaآ” paling berpengaruh. Mempromosikan kepada publik, bahwa surga adalah آ“komoditasآ” bisa diraih dengan bermodal materi. Kalaulah hal itu dianggap آ“ibadah sampinganآ”, tentu tidak masalah. Ironisnya mengesampingkan esensialitas ibadah kepada Allah SWT. Memang, dalam hati kecilnya, mereka pun mungkin takut atas dosa-dosanya(?). Namun magnet godaan setan dengan umpan fatamorgana duniawi eksis lebih kuat mengalahkan keimanannya.

Kroposnya akar-akar Islam آ“di lapangan Ibadahآ”, baik vertikal(kepada Allah) maupun horisontal(sesama ummat beragama), adalah resiko dominan dari آ“komoditas surgaآ”. Faktor utamanya, mereka(pelaku) berpikir pragmatis, bahwa dalam konteks ibadah cukup mengeluarkan sebagian duitnya saja. Naifnya lagi, sering tanpa memperdulikan uang halal atau haram. Menggelikannya, banyak orang berceletuk : “Berbuat demikian itu lebih baik, daripada sama sekali tidak آ‘beramalآ’ “.

Marak para koruptor-pecandu mengeruk duit rakyat itu, atau artis(tak terkecuali artis bintang porno), mempublikasikan diri melalui berbagai media massa(yang dikontraknya), mereka berebut membangun megah masjid-masjid atau menyantuni para yatim piatu.

Seolah-olah mereka adalah “teladan beribadahآ” bagi segenap Muslimin. Padahal selain unsur آ“membeli surgaآ”, juga sering adanya faktor politis(bagi para koruptor) dan komersialis(mencari penggemar) bagi para artis. Jelaslah fenomena-fenoma tidak prosedural atau jauh dari autentisitas ibadah. آ“

Kaveling Surgaآ”

Perspektif Tauhid(ilmu ketuhanan) adalah hak perogratif Allah SWT untuk membagi kebijakan sifat Rakhman dan Rakhim-Nya. Siapa yang akan dimasukkan ke surga atau neraka? Sesuai dengan keagungan Qudroth dan Irodath-Nya.

Entah ahli ibadah atau pecandu berbuat dosa, bahkan Muslim atau Kafir sekalipun? Menentukan masuk surga atau neraka adalah hak otoritas Tuhan yang tidak bisa diintervensi oleh siapapun!

“Dia(Allah) mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu” (QS 5:18).

Sekali lagi, biarlah Allah SWT menentukan otoritas Rakhman-Rakhim-Nya kepada segenap makhlukNya. Adalah kesalahan fatal, bila ada manusia bermaksud “mengaveling surga”, apalagi hanya dengan mengandalkan seonggok harta. Dan sedikitpun manusia tidak ada kelayakan ber-action jadi “agen surga”.

Esensi Ibadah

Saya tidak bermaksud menjadi “sales surga”. Tetapi, esensialitas persoalannya, perspektif hukum fiqih, empat madzahib fuqoha ahlissunnah waljama’ah(Hambali, Maliki Hanafi, Syafiآ’i) konsesus(ittifaq) bahwa generalitas dalam beribadah : Selain ada rukun yang dilaksanakan, juga sebelum memulai ibadah terlebih dulu harus memperhatikan terhadap syarat-syaratnya.

Selain ada syarat diwajibankannya(beribadah), utamanya harus memenuhi syarat syah, agar sesuai prosedur (ibadah)nya menjadi syah.

Apakan sesuai prosedur, mencuci lantai masjid dengan air kencing? Menyantuni para anak yatim dengan uang hasil korupsi? Atau membangun pesantren dengan uang hasil memamerkan aurat badan di berbagai media massa? Jelas tidak, bukan? Sesuai Qowaآ’id al-Fiqh : آ“al-Ashlu baqou ma kana aآ’la makanaآ”(hukum sesuatu hal, itu sesuai dengan kondisi asalnya). Umpamanya, uang haram dijariahkan ke masjid, maka tetap haramlah hukum menyalurkan duit(haram) itu.

Sedekah atau dermawan, memang dianjurkan. Namun dengan harta haram, dalam konteks ibadah, hal itu hanya melaksanakan rukun, sedangkan menafikan syarat(ibadah) tentunya menyebabkan tidak syah.

Dan memang, harta itu, hisabnya(pertanggung jawaban di hadapan Allah) dua hal ; dari mana(dengan cara apa, pen) diperoleh, dan untuk apa dipergunakan. (HR. at-Tirmidzi dari Abu Barzah R.A.). Maka, tidak tepat, menjadikan hal haram atau subhat itu, sebagai argumentasi “untuk mencari modal” beribadah. Bukankah sangat banyak jalan untuk mencari rezeki sekaligus tanpa mencampakkan konstitusi(syariat) Ilahi?

Pun autentisitas total ibadah(bertakwa) bukanlah berorientasi meraih surga atau menjauhi neraka. Tapi Li-Allahi Taآ’ala(karena Allah Taآ’ala) murni menjalankan kewajiban hamba atas perintah Kholiq(Sang Pencipta).

Bila beribadah orientasinya masuk surga-menjauhi neraka, otomatis signifikan mengikis kualitas orisinilitas ibadah. Perspektif Tauhid adalah termasuk asy-Syirku al-Asghor(bagian dari penyekutuan kepada Allah SWT).

Efek Samping

Kompfleksnya sistem media informasi, berperan aktif menularkan hedonisme. Kenaifan itu pun telah kronis mewabah ke plosok-plosok. Kini di daerah-daerah pun telah “ngetrend” terjangkit virus “Menyuap Malaikat-Membeli Surga”. Berujung semakin terpinggirkannya implementasi kualitas ibadah. Fenomenanya, mereka mau menyumbangkan materi untuk pembangunan masjid, namun berat untuk melangkahkan kaki sholat berjamaah ke masjid. Atau marak pula(orang-orang daerah) gemar menyumbangkan duit untuk acara-acara pengajian/majlis taآ’lim, namun enggan mengikuti pengajian di majlis yang didonasinya itu. Lebih parahnya, untuk golongan(orang daerah) semacam ini, sering berasumsi :”bahwa pendidikan bukanlah(lagi) hal terpenting dalam kehidupan manusia.

Utamanya memandang negatif kepada komunitas pelajar jurusan agama(Islam) karena dianggap tidak prospektif menghasilkan bongkahan-bongkahan materi”. Meskipun realitasnya, terdapat jutaan orang-orang bergelar “sarjana ekonomi plus” berstatus pengangguran. Namun belum juga terbuka mata hati kaum hedonis itu.

Bagi mereka, yang terpenting adalah : “Bagaimana putra-putrinya secepat mungkin bisa meraup materi, misalnya berdagang, dengan tanpa membutuhkan pendidikan tinggi, toh ijazah pun(utamanya ijazah pendidikan agama) tidak menjamin masa depan”. Itulah yang ada dibenak mereka. Sungguh naif! Ironisme mewabah adalah, dengan آ“berprinsip” demikian itu, mereka pun sering ditemukan meninggalkan fardu aآ’in(kewajiban personal) seperti sholat lima waktu dan atau puasa Ramadan. Dominan sibuk dengan aktivitas duniawi.

Inilah, diantara imbas hedonisme(pemuja harta). Terkesan “berprinsip”: آ“Boleh berpuas-puas berbuat dosa dengan kemewahan harta, termasuk cara(haram) memperoleh hartanya. Toh, dengan harta itu, akan mampu آ‘menyuap malaikat sekaligus membeli surga!آ’ آ”. Sungguh memilukan! Firman Allah Taآ’ala, (QS. Asy-Syu’araa’: 88-89), akan datang suatu hari: “Yaitu pada hari di mana tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Insya Allah Taآ’ala, dengan ketakwaan. Manusia akan diberi rahmat dijauhkan dari neraka dan dimasukkan surga oleh Dzat Maha Segalanya, yang “staffNya”(para malaikat) itu tidak bisa dikelabuhi dengan rekayasa fatamorgana materi. Dan memang, surga tidak bisa “dibeli”(dengan materi).

Ilmiahnya. Melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan Allah SWT sesuai orisinilitas syariatNya, itulah esensi dari kehidupan manusia berperadaban untuk estafet meraih honoris causa takwa. Sekaligus upaya prosedural “menyuap Malaikat-Membeli Surga!”

Add comment Juni 20, 2008

Iman Dalam Pandangan Tasawuf

Iman Dalam Pandangan Tasawuf (Gnostik Islam)
Posted by netlog in Iman Dalam Pandangan Tasawuf.
1 comment so far

Kebenaran Mutlak Al-Haqq-Nya takkan Terjangkau Akal

Oleh H. JAMIL P. SYATHTHARIYYAH

TASAWUF mempunyai seperangkat peristilahan teknis yang khas bagi kaum sufi. Pengertian dari istilah-istilah itu bisa amat berbeda dari yang umumnya dipahami lewat doktrin-doktrin yang diajarkan oleh institusi agama formal. Meskipun demikian, semua pengertian itu sesungguhnya bersumber pada ajaran-ajaran Rasul dan Kitabullah. Sama sekali tidak melepaskan diri dari kedua-duanya.

Seperti iman, butiran iman, fitrah, tauhid, sirr, takwa, khusyu’, ihsan, ikhlas, syirik, nafsu, jihadunnafs, hati, roh, rasa, al-faqir, murid, guru, zikir, ahli zikir, al-Ghaib, al-ghuyub, taubat, zuhud, qana’ah, tawakkal, ‘uzlah, syari’at, thariqat, haqiqat, dan ma’rifat, untuk menyebut beberapa di antara peristilahan yang demikian itu.

Bagi sufi Syaththari, pengertian yang hakiki (yang dirasakan dalam rasa hati) baru bisa diperoleh setelah terbukanya hati, roh dan rasa, terhadap Keberadaan Diri Tuhan Zat Yang Al-Ghaib (tidak pernah menampak di dunia dan di bumi ini), namun mudah sekali untuk merasakan dalam rasa hati, sangat dekatnya Dia kepada manusia. Dalam menjalani kehidupan di dunia, para sufi berupaya memproses diri mereka untuk mendekat kepada-Nya (taqarruban ilallaah) hingga sampai bertemu dengan Diri-Nya (inilah surga atau jannah mereka yang sesungguhnya) di Akhirat.

Pengertian iman

Iman dalam pengertian sufi adalah sesuatu (Nur atau Cahaya Ilahi) yang masuk ke dalam hati insan yang telah siap menerimanya (karena merasa butuh kepada-Nya). Kesiapan itu ditandai dengan kehendak dan harapan bertemu dengan-Nya (oleh karena itu, insan yang demikian disebut murid, yaitu orang yang berkehendak bertemu Tuhannya).

Kesiapan ditandai pula dengan tekad kuat untuk melakukan peperangan terbesar (jihadul akbar), yaitu memerangi nafsu dan membunuh watak akunya (jihadunnafs), sehingga nafsunya (yang wujudnya adalah jiwa raganya) tunduk dan patuh untuk dijadikan kendaraan (buraq) bagi hati, roh dan rasa, berjalan mendekat hingga kembali kepada-Nya dengan selamat (bi qalbin salim) dan rasa bahagia selama-lamanya.

Bagi sufi, Nur Ilahi ini haknya memang berada di dalam hati. Sedangkan semua yang lain harus dikeluarkan dari dalam hati (makna tashfiyatul qalbi) sehingga yang senantiasa diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati hanyalah Keberadaan Zat Al-Ghaib Yang Mutlak Wujud-Nya ini saja.

Nur Ilahi ini lalu dirasakan membutir di dalam rasa hati menjadi butiran iman. Mereka yang telah mencapai maqam ini biasa disebut Asysyaththar.

Dengan Nur Ilahi ini, hati seorang sufi menjadi seakan-akan memandang kepada Wajah-Nya (tawajjuh), yaitu merasakan Keberadaan-Nya secara jelas dan nyata dalam rasa hati, di dalam setiap amal dan perbuatannya di mana saja, kapan saja, dan sedang dalam kondisi apa pun. Dengan cara inilah, semua amal dan perbuatannya dapat terhubung erat dan menyatu dengan Tuhannya. Dalam keadaan demikian, Tuhan selalu membuatnya melakukan perbuatan yang dikehendaki-Nya.

Perjalanan hidup seorang sufi adalah memproses diri untuk selalu menyatukan perbuatan yang lahir (zhahir) dan yang batin (bathin), yaitu menyatukan syariat (aturan-aturan formal agama) dan hakikat, dilakukan secara bersamaan sebagaimana tidak terpisahnya jiwa dan raga selama hidup di dunia ini.

Mengapa bisa demikian? Karena yang lahir (syari’at) dikerjakan oleh jasad yang tampak oleh mata kepala. Bersamaan dengannya, yang batin (hakikat) dilakukan oleh hati, roh dan rasa, yang sama sekali tidak kasat mata (dibangsakan gaib, tetapi bukan Al-Ghaib-Nya Tuhan).

Lompatan iman

Mereka, para sufi, mengalami pengalaman lompatan iman (yaitu menyatunya ilmu tauhid, takwa, khusyu’, ihsan dan ikhlas, dalam rasa hati) dalam pelaksanaan aturan-aturan formal agama yang disampaikan lewat guru (mursyid) kepadanya. Terutama sekali, lompatan iman ini terealisasi dalam hal menegakkan salat untuk mengingat-ingat keberadaan Diri Ilahi (bukan mengingat-ingat arti bacaan salat).

Bahkan, bisa dikatakan, lebih kepada mengintai-intai keberadaan Diri-Nya sehingga dirinya (si pelaku shalat) tidak lagi merasa melakukan salat, karena perhatiannya sepenuhnya terserap kepada Diri-Nya. Hanya salat yang demikian saja yang dipastikan dapat mencegah diri dari perbuatan yang keji dan munkar (tanha ‘anil fahsya wal munkar).

Begitu pula halnya dalam menafkahkan sebagian rezeki halal yang diperolehnya, dikeluarkan dengan mudah di jalan-Nya (seperti memenuhi hak-hak tanggungannya dan menolong orang-orang yang sangat membutuhkan), karena dirinya sudah tidak lagi merasa memiliki apa saja.

Bahkan, salat yang khusyu’ ini bagi sufi merupakan cara (hati) mengembalikan jasad manusia kepada unsur-unsurnya (yaitu tanah, air, api, dan udara). Pengembalian ini terus menerus dilakukan sebelum mati, yang sebenarnya ditemui (muutuu qabla anta muutuu).

Pengembalian ini dimaksudkan agar tidak menjadi penghalang (hijab) mata hatinya guna melihat Wajah-Nya hingga dapat selamat bertemu dengan-Nya di Akhirat kelak.

Selain pengembalian jasad, sufi memproses pengembalian roh (terjadi dalam penghayatan rasa hatinya), karena roh ini milik-Nya jua (Ruh Ilahi), sehingga apa saja (termasuk keberadaan dirinya dan perbuatannya) yang semua itu adalah milik-Nya, tidak lagi diaku dan dirasa miliknya.

Dengan demikian, sufi menjalani kehidupan di dunia ini tetap sebagaimana mestinya manusia biasa hidup di dunia, yaitu memenuhi kebutuhan-kebutuhan asasinya dan mengatasi masalah-masalahnya, tetapi niat dan tekadnya (membuktikan makna zuhud dan ‘uzlah) sama sekali tidak untuk hidup berdunia dengan nafsu dan watak akunya.

Niat dan tekad hidupnya senantiasa tetap untuk memproses diri mendekat kepada-Nya demi mencapai cita-cita dan tujuan hidup, semata-mata bertemu dengan-Nya Yang Kekal Abadi.

Berbeda dengan Freud

Freud menganggap pengalaman keagamaan manusia adalah refleksi dari rasa takut yang berlebihan (sebagaimana tulisan Luthfi Assyaukanie berjudul Agama dalam Batas Iman Saja, Kompas, Sabtu 3 September 2005, hlm. 52).

Tidak sebagaimana Freud, pengalaman keagamaan seorang sufi dilandasi oleh kesadaran al-faqir, yaitu merasa diri tidak bisa apa-apa, tidak punya apa-apa, tidak tahu apa-apa, bahkan bukan apa-apa. Juga, dilandasi rasa syukurnya terhadap banyaknya pemberian Tuhan kepadanya. Pemberian jiwa raga dan keberlangsungan hidupnya di dunia, ini saja sudah cukup banyak baginya.

Sufi meyakini pemberian terbesar dalam kehidupannya (al-kautsar) adalah masuknya butiran iman (Nur Ilahi) ke dalam (rasa) hatinya, sehingga lalu memfungsikan mata hatinya (yang ada di dalam hati, ruh dan rasa) dapat dengan mudah dan indah merasakan Keberadaan-Nya yang sungguh-sungguh dekat sekali kepadanya (bahkan lebih dekat dari jiwa raganya sendiri).

Nikmatnya zikir (mengingat-ingat dan menghayati Ada dan Wujud Diri-Nya Zat Yang Al-Ghaib) dalam rasa hatinya pun lalu terbukti. Inilah rahasia kebenaran mutlak Al-Haqq-Nya yang sama sekali tak terungkap dalam kata-kata dan tak terjangkau akal pikiran.

Seperti rahasia rasa asin, hakikatnya tak terungkap dan tak terpikir kecuali satu-satunya cara merasakan keberadaannya adalah dengan mencicipi garamnya. Padahal, garam ini masih bisa dilihat mata dan masih bisa dipikirkan akal.

Apalagi terhadap Tuhan Yang Al-Ghaib, sama sekali mustahil untuk mencerapnya dengan indra dan akal. Sejauh-jauh jangkauan akal manusia akhirnya hanya akan sampai pada kesimpulan hukum sebab-akibat penciptaan saja.

Setelah hati mengenali Keberadaan-Nya (ma’rifatullah), akal yang lalu tercerahi Cahaya Ilahi pun tak mampu mengingkari Keberadaan-Nya Yang Esa dan Mutlak. Meskipun demikian, akal tercerahkan ini tetap saja bungkam seribu bahasa tak mampu memaparkan-Nya, sebagaimana ia pun tak mampu memaparkan hakikat rasa asin.

Rahasia rasa (sirr) inilah yang sebenarnya menjadi dasar manusia. Buktinya, kehidupan tanpa rasa akan menjadikan kehidupan ini hambar sama sekali.

Akan tetapi ternyata semua rasa duniawi (termasuk rasa suka maupun duka yang dialami manusia) mendindingi atau menutup rapat-rapat rasa asli (sebagai hakikat insan) untuk merasakan Keberadaan Diri-Nya Zat Yang Wajib Wujud-Nya.

Setelah manusia tumbuh dalam kehidupan berdunia yang berporoskan nafsu dan watak akunya, mata hatinya lalu menjadi buta sama sekali. Akibatnya, manusia tidak lagi percaya bisa mengenali-Nya, apalagi hingga sampai bertemu dengan-Nya.

Terobosan kreatif

Menurut keyakinan sufi sejati, khususnya sufi Syaththari, Tuhan telah menyiapkan terobosan kreatif bagi umat beragama (siapa saja) yang merasa butuh kepada-Nya, sebagai wujud belas kasih-Nya kepada mereka. Yaitu, membentuk di tengah-tengah mereka seorang pembimbing sejati (syaikh atau guru mursyid) yang akan menunjukkan Keberadaan-Nya Yang Al-Ghaib dan menuntun hamba-Nya di jalan lurus menuju kepada-Nya, hingga sampai dengan selamat kembali kepada-Nya.

Sang pembimbing (yang tidak akan pernah berani mengaku, karena tidak merasa menjadi Guru) ini pertama-tama mengisikan butiran iman (Nur Ilahi) ke dalam rasa hati murid (orang yang berkehendak bertemu Tuhannya). Hal ini kemudian menghidupkan dan mencerahkan hati, ruh, dan rasanya, sehingga mencahaya dengan senantiasa mengingat-ingat dan menghayati Keberadaan Diri-Nya Ilahi. Mengubah dirinya menjadi insan cahaya Tuhan.

Lalu, si murid selalu berusaha mengikuti petunjuk Sang Pembimbing demi keberhasilannya memenangkan perang terbesar (jihadunnafs) yang mau tak mau mesti diperjuangkan seumur hidupnya di dunia ini. Proses ini diyakini kemudian akan mendatangkan fadhal dan rahmat Tuhannya yang menyampaikannya kepada tujuan hidup dan cita-cita bertemu dengan Tuhannya.

Kebutuhan murid sufi terhadap mengadanya seorang guru sejati baginya menjadi sangat penting dan perlu sekali, karena dia sangat menyadari begitu samarnya (bagai sehelai rambut dibelah tujuh) jalan menuju kepada-Nya. Juga, begitu halusnya (hingga tak disadari) bujuk rayu dan godaan setan dan iblis, serta adanya (selama umur hidupnya di dunia) ajakan nafsu yang selalu menyalahi kehendak-Nya dengan memerankan watak akunya.

Oleh karena itu, sang pembimbing sejati mestilah mempunyai martabat mursyidun, murbiyyun, nashihun dan sekaligus kamilun, di dalam menjalankan tugasnya membimbing murid sufi menuju keberhasilan cita-citanya.***

Penulis, praktisi Tasawuf Syaththariyyah, warga Yayasan Lil-Muqarrabiin cabang Bandung dan bermukim di Kota Bandung***

1 comment Juni 20, 2008

Salah Satu Tanda Kiamat

Asteroid Menabrak Bumi
Posted by netlog in Salah Satu Tanda Kiamat.

Asteroid Raksasa Tabrak Bumi (salah satu tanda-tanda kiamat)

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0903/04/cakrawala/lainnya04.htm

DENGAN deskripsi yang terasa realistis, dua buah film produksi Hollywood, Armageddon dan Deep Impact cukup berhasil mencekam penontonnya dengan penggambaran kiamat yang melanda bumi. Dengan visualisasi yang seolah apa adanya, inferno atau kehancuran yang sangat menakutkan itu terdeskripsikan lewat hujan meteor dan tubrukan asteroid dengan planet bumi.

Sebuah telaahan, baik dari segi perhitungan maupun pengamatan astronomis yang dilakukan seorang astronom AS Don Yeomans pada 24 Juli 2002, memprediksi, pada 1 Februari 2019 akan jatuh sebuah asteroid NT7 dengan diamater sekira 1,5-2 km akan menabrak bumi!

Atau, dalam jangka waktu yang lebih lama daripada itu ada juga asteroid 1950DA. Ukurannya sebesar gunung dan menurut para astronom, ia memang sudah berada pada jalur lurus dengan bumi. Salah satu skenario terburuk yang terungkap, 1950DA akan menubruk sasaran layaknya air. Ini disebabkan planet kita mengandung lebih banyak air ketimbang daratan.

Ketika asteroid itu jatuh ke permukaan air, ia akan melayang sejenak. Tatkala menyentuh dasar lautan, ia akan meledak menciptakan sebuah kawah seluas 11 mil. Gelombang air dan reruntukannya akan diterbangkan beberapa mil ke angkasa, dengan ketinggian mencapai tingkat yang bisa dicapai pesawat jet. Kalau Anda pernah menyaksikan film Deep Impact, persis seperti itulah yang terjadi.

Sebagai sebuah komparasi, staf pengajar Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Suryadi Siregar, MSc. sempat memaparkan dalam sebuah talk show astronomi di Kampus ITB beberapa waktu lalu, bahwa hal serupa sempat beberapa kali terjadi terhadap “planet biru” kita, yang hingga saat ini masih dianggap menjadi satu-satunya planet yang berpenghuni.

“Pada 109 tahun lalu, sebuah asteroid menabrak bumi di Arizona, membuat sebuah lubang dengan kedalaman 190 meter dan diamater 3300 meter. Hal serupa terjadi di Wolf Creek, Australia, membuat cekungan sedalam 18 meter dan luas 170 meter, juga di Wabar, Arab Saudi, yang dampaknya hampir sama dengan di Australia,” tuturnya.

Lalu, ujarnya, pada 30 Juli 1908 di Tunguska terjadi guncangan besar yang gaungnya bisa terdengar dari jarak 60 km. Direkam dari jarak 1000 km, berat guncangan itu diperkirakan mencapai 40.000 ton. Kendati hingga kini masih dipandang kontroversial, karena ada sementara kalangan yang menyebut kejadian itu bukan karena asteroid namun oleh jatuhnya komet Emcke, toh fenomena astronomis jatuhnya benda langit ke bumi, merupakan keniscayaan.

Widya Sawitar, salah seorang pengurus Planetarium Jakarta mengungkapkan pada kesempatan serupa, contoh musnahnya dinosaurus dari muka bumi yang diduga berkait dengan jatuhnya asteroid berdiameter sekira 10 km, dalam wujud meteor raksasa ke bumi, 65 juta tahun lalu. “Meteor itu jatuh di Jazirah Yucatan Meksiko membentuk Kawah Chicxulub (Ekor Selatan) berdiamater 200-300 km, dan kedalaman 3 km, yang menjadi bagian dari Teluk Meksiko. Namun, sekira 8 juta tahun sebelumnya, telah didahului dengan terbentuknya Kawah Manson di Ohio bergaris tengah 35 km,” ungkap Widya.

Kondisi-kondisi serupa memang banyak ditemukan dari hasil penelitian. Juga kemungkinan terjadinya hal serupa di masa depan. Salah satunya adalah prediksi asteroid NT7 di atas, atau hasil temuan Scotti (6 Desember 1997) bahwa asteroid 1997XF11 ditaksir akan mendekati bumi pada 28 Oktober 2028. Termasuk asteroid 1950DA.

“Tapi, khusus untuk prediksi 2019, kemungkinannya kecil karena untuk bisa menabrak ada syarat inklinasi (kemiringan sudut–red.) tertentu, yang tidak terpenuhi pada perhitungan asteroid NT7. Kendati begitu, ancaman lain tetap ada pada asteroid lain yang menjadi kandidat untuk ‘menemui’ bumi. Meski kadang, media memang membesar-besarkannya demi menarik perhatian pembaca,” kata Suryadi.

Kembali ke 1950DA, sebetulnya termasuk berukuran kecil dibandingkan asteroid lainnya. Tapi, sebuah asteroid terkecil sekalipun sanggup memusnahkan sebuah kota dalam tumbukan langsung. Dan jangan lupa, di atas sana masih ada banyak batu-batuan luar angkasa. Salah satunya sempat luput menabrak bumi, dengan hanya berjarak 75.000 mil pada Juni 2002 lalu.

Tapi, kita masih boleh bergembira. Sebab kabar baiknya, 1950DA masih berada 877 tahun perjalanan dari bumi. Lagipula, kemungkinannya untuk benar-benar menabrak planet kita dan menyebabkan skenario sebagaimana terpaparkan di atas hanyalah 1:300. Simulasi tentang skenario tabrakan itu sempat dilakukan ilmuwan Steven Ward dan Erik Asphaug dari Universitas California, Santa Cruz.

Sekalipun terdapat lebih banyak lagi 1950DA bahkan dengan ukuran lebih besar, kedatangan mereka akan lebih lambat ketimbang ditemukannya senjata pemusnah asteroid yang kini juga terus dikembangkan. Meskipun dengan bantuan dana yang sangat minim. Lagipula, sekelompok ilmuwan, banyak di antaranya yang bekerja hanya dilatari semangat dan idealisme ketimbang bantuan nyata pemerintah, bekerja keras untuk mencari metode ampuh melumpuhkan asteroid, sebelum jaraknya semakin dekat dengan Bumi.

NASA sudah lebih dari setengah jalan meneliti asteroid dan komet yang akan berada pada jarak terdekat dengan bumi yang disebut “objek dekat bumi” atau NEOs (near earth objects) yang luasnya lebih dari satu kilometer. Para ahli memperhitungkan bahwa kemungkinan sebuah objek dengan ukuran tersebut dan bisa menabrak bumi pada abad mendatang adalah hanya satu dari ribuan lainnya. Namun, dampak yang ditimbulkannya akan sangat luas.

Setelah para astronom mengamati asteroid dengan teleskop, mereka menggunakan penjejak radar untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh kemana arah asteroid itu. Demikian pula, berapa kecepatannya, dan apakah orbitnya di sekitar matahari akan melewati Bumi. Sebelum 1950DA diperkirakan akan berhadapan dengan Bumi pada 1880, asteroid itu akan memutari matahari 400 kali, sementara Bumi akan melengkapi 876 orbit.

Bagaimanapun, para astronom menegaskan bahwa fenomena astronomis sebagaimana terpapar di atas adalah hal yang wajar dan niscaya. Ancamannya memang mengerikan, tapi itu merupakan gejala alam yang wajar dan memang sebuah keniscayaan. Yang justru lebih mengerikan bahwa kehancuran bumi bukan kerena asteroid, tapi karena ulah penghuninya yang memang berlangsung pelan tapi pasti. Populasi bumi semakin membengkak, bahan pangan sudah semakin terkuras, polusi di mana-mana. Teknologi memang sudah maju, tapi penggunaannya tidak semata diarahkan untuk kesejahteraan manusia, tapi lebih untuk memerangi manusia lainnya.

Kalau sudah begitu, fenonema astronomi sebagaimana dipaparkan di atas, agaknya harus dipandang sebagai peringatan untuk menggugah kesadaran kita, bahwa keserakahan (greed) tak bakal membuat kekal manusia. Bahkan, kemungkinan ketika tabrakan asteroid itu menjadi “gong penutup” kehidupan di muka bumi alias kiamat, itulah memang yang terdeskripsikan dalam berbagai kitab suci agama.(Erwin Kustiman/berbagai sumber)***

————————————————————————

Tamu Dari Luar Angkasa

http://www.geocities.com/Area51/Dimension/7127/klip035.html

Bumi sejak zaman dahulu sering didatangi tamu dari luar angkasa. Baik yang hanya melintas, atau mendarat di permukaan Bumi. Bahkan tamu-tamu itulah yang diduga memicu munculnya kehidupan serta menciptakan ekosistem yang mampu menopang kehidupan hingga kini. Yang kita bicarakan disini bukan makhluk luar angkasa yang turun dari piring terbang atau UFO, melainkan benda langit yang bernama asteroid, meteorit arau komet. Benda-benda langit itulah yang diyakini menciptakan ekosistem di Bumi.

Ribuan meteorit menghujani bumi setiap tahunnya. Hanya saja karena ukurannya amat kecil, meteorit ini sudah hancur terbakar ketika memasuki atmosfir. Sebagian diantaranya mungkin masih tersisa dan jatuh ke Bumi berupa bola berapi. Berita terakhir yang membuat masyarakat panik adalah laporan dari perhimpunan astronomi internasional- IAU, yang mengatakan ada kemungkinan pada tahun 2028, sebuah asteroid besar akan menabrak Bumi.

Laporan IAU tsb, segera menimbulkan kepanikan penduduk di berbagai negara. Sehari kemudian para pakar dari laboratorium propulsi jet -JPL di California membantah laporan tsb. Berdasarkan analisis foto astronomi diperoleh data, bahwa asteroid besar yang diberinama XF 11 itu hanya akan melintasi Bumi pada jarak sekitar 960.000 kilometer. Sebagai perbandingan, jarak antara Bumi dengan Bulan adalah sekitar 380.000 kilometer. Tetapi para ahli astronomi menyebutkan, ancaman terkena jatuhan benda langit semacam itu amat sulit diramalkan. 1. Diakui, selama ini pengamatan dan data mengenai ancaman jatuhnya asteroid, meteorit dan komet ke Bumi, amatlah terbatas. Pada tahun 1995 AS memprakarsai program pengamatan asteroid dekat Bumi-NEAT. Sampai saat ini, program tsb sudah berhasil melacak dan mendata lebih dari 6.000 asteroid baru, 15 diantarnya digolongkan amat dekat dengan Bumi dan 4 diantaranya dikategorikan amat berbahaya.

Apa bahayanya jika sebuah asteroid atau meteorit jatuh ke Bumi ?. Film Deep Impact mungkin mampu menggambarkan betapa dahsyatnya bencana yang ditimbulkan. Atau kejadian nyata pada tanggal 30 Juni tahun 1908, ketika sebuah meteorit berdiameter hanya 60 meter, meledak di ketinggian 15 kilometer di atas hutan di kawasan Tunguska Siberia. Dalam radius 60 kilometer rumah-rumah seolah diguncang gempa hebat. Dan pada radius sekitar 20 kilometer dari pusat ledakan, hutan terbakar dan porak peranda. Atau terciptanya kawah meteorit berdiameter satu kilometer di Arizona AS, yang merupakan dampak dari jatuhnya sebuah meteorit besi berdiameter 100 meter pada 20.000 tahun lalu.

Sejauh ini para ahli juga memperkirakan, musnahnya dinosaurus 65 juta tahun lalu, adalah akibat jatuhnya sebuah asteroid berdiameter 10 kilometer ke semenanjung Yucatan di Mexiko. Dahulu dampaknya tidak mengancam manusia. Karena ketika dinosaurus musnah, manusia samasekali belum ada di Bumi. Sementara 20.000 tahun lalu Arizona adalah kawasan kosong yang tidak dihuni manusia.

Bila perhitungan para ahli meleset, dan asteroid XF 11 yang berdiameter 1,6 kilometer benar-benar jatuh ke Bumi maka bencana besar dalam sekejap akan memusnahkan ratusan juta manusia. Energi ledakan yang dilepaskannya diperhitungkan setara dengan 20 juta kali energi bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima. Impak tabrakan akan menyebabkan letusan gunung api, memicu tsunami serta membuat Bumi gelap gulita. Dalam waktu sekejap, umat manusia akan merasa kembali ke zaman batu.

Masalahnya kini adalah, bagaimana meramalkan akan jatuhnya benda langit itu ke Bumi. Mengapa tiba-tiba benda langit itu menyimpang dari jalurnya. Serta bagaimana mencegah agar bencana besar tidak menimpa umat manusia. Untuk itu berbagai program angkasa luar, kini juga dikaitkan dengan pengamatan benda langit dekat Bumi. Berbagai data mengenai perubahan perilakunya juga dicatat secara teliti. Jutaan foto dibuat untuk analisis data.

Asteroid dekat Bumi, biasanya merupakan asteroid yang terpental dan melenceng dari jalur alamiahnya. Di tata surya, sabuk asteroid terletak antara planet Mars dan Yupiter. Akan tetapi bila ada gaya lain dari alam semesta, misalnya ada komet yang melintas atau terjadi tabrakan asteroid, maka beberapa buah asteroid itu lepas dari jalurnya dan boleh jadi memasuki gaya tarik Bumi. Bila obyeknya cukup besar, benda langit ini dapat bertahan, dan kemungkinan jatuh ke Bumi. Bila obyeknya kecil, biasanya habis terbakar di luar angkasa.

Relatif kecilnya asteroid atau meteorit yang memasuki gaya tarik Bumi, menyebabkan seringkali luput dari pengamatan para ahli. Diameter sekitar satu kilometer bagi benda langit adalah relatif kecil bila dibanding dengan satelit atau planet serta bintang yang ukurannya amat besar. Diakui, para ahli astronomi seringkali hanya berhasil melihat jejaknya, bahwa sebuah meteor atau asteroid baru saja melintasi Bumi. Dengan demikian, bila benda langit ini jatuh ke Bumi, para ahli tidak berdaya mencegahnya, karena memang tidak mampu melacaknya.

———————————————————————

03 September 2003

TEMPO Interaktif, London: Sebuah asteroid raksasa sedang menuju Bumi dan dapat menabrak Bumi tahun 2014. Para astronom Amerika Serikat telah memperingatkan hal tersebut pada monitor ruang angkasa Inggris.

Tetapi bagi mereka yang mengkhawatirkan kejadian “Armageddon” tidak perlu terlalu khawatir karena kemungkinan menjadi bencana besar hanya satu dalam 909.000 kasus.

Asteroid “2003 QQ47″ akan terpantau lebih dekat dalam dua bulan ke depan. Kemungkinan tabrakan terjadi 21 Maret 2014, tetapi para astronom mengatakan resiko pengaruh tabrakan kemungkinan berkurang dengan semakin banyaknya data yang terkumpul.

Mengenai dampaknya, tabrakan itu memiliki efek yang setara dengan 20 juta bom atom Hiroshima, ujar seorang juru bicara Pusat Informasi Obyek yang Mendekati Bumi Pemerintah Inggris.

Pusat Informasi itu mengeluarkan peringatan tentang asteroid setelah batu raksasa pertama kali diamati di New Mexico oleh Program Riset Asteroid yang Mendekati Bumi di Lincon. “Objek yang mendekati bumi akan dapat diamati dari Bumi dalam dua bulan mendatang dan para astronom akan terus mengamatinya selama periode ini,” ujar Dr. Alan Fitzsimmons, salah seorang pakar yang menjadi penasehat Pusat Informasi tersebut.

Asteroid seperti 2003 QQ47 merupakan bongkahan batu yang terhempas dari formasi sistem tata surya 4,5 miliar tahun lalu. Sebagian besar berada pada jarak yang aman dari Bumi di daerah asteroid antara Mars dan Yupiter.

Tetapi pengaruh gravitasi dari planet besar seperti Yupiter dapat mendorong asteroid keluar dari orbit aman dan mengirim mereka terjun ke arah Bumi.

2 comments Juni 20, 2008

Renungan Tentang Rizki ALLAH

Renungan Tentang Rizki ALLAH
Posted by netlog in Renungan Tentang Rizki ALLAH.
Oleh : Netlog

Disebuah kampung yang tenang, di hulu sebuah sungai,آ hidup seorangآ kyai bernama Hanif, Beliau menjadi imam dikampung itu dan memimpin umat hingga usianya yang menjelang senja. Beliau banyak mengajarkan ilmu-ilmu syariat kepada umat dan sesekali disisipi ilmu hakikat dalam ajaran islam.
P ada suatu ketika datanglah santri lama sang Kyai ke kampung itu, Ia bernama Mustofa karena lama tidak bertemu, Mustofa memutuskan untuk singgah beberapa hari di kampung itu.

Seperti biasanya ketika Mustofa mengunjungi gurunya selalu terjadi dialog untuk mengkaji lebih mendalam tentang syariat dan hakikat Islam.

Kunjungan kali ini digunakan oleh mereka berdua untuk membahas masalah rizki yang datang dari ALLAH. Mustofa berpendapat bahwa rizki yang ALLAH berikan kepada kita haruslah dijemput datangnya, dengan kata lain manusia harus berusaha untuk mendapatkan rizki dari ALLAH itu. Menurut Mustofa mustahil rizki itu datang dengan sendirinya tanpa kita berusaha dan berupaya.

Berbeda dengan Muridnya, Kyai Hanif lebih memandang bahwa rizki yang datang dari ALLAH itu akan datang dengan sendirinya tanpa harus kita jemput, menurut kyai Hanif ALLAH sudah menentukan rizki seseorang, maka meski orang itu tidak menjemputnya rizki itu pastilah akan datang.

Perdebatan kajian soal rizki ALLAH ini membuat Mustofa merenung, benarkah apa yang dikatakan oleh guruku tadi?.آ namun ia tidak juga menemukan kebenarannya. bahkan Mustofa menjadi bertanya-tanya lalu dari mana rizki itu datang bila kita tidak berusaha? apakah akan turun dari langit?.

Dua hari sudah Mustofa singgah di rumah gurunya. Mustofa berkata kepada kyai Hanif, “sampai detik ini saya belum bisa memahami maksud kyai soal rizki yang datang sendiri itu”.

Kyai Hanif menjawab dengan senyum, “Sudahlah sekarang kamu pulang, insya ALLAH jika kau kesini lagi kau akan menemukan jawabannya”. Akhirnya Mustofa kembali kerumahnya diseberang kampung, dengan membawa sebuah pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya.

Seminggu telah berlalu. Mustofa berniat datang kerumah Gurunya, apalagi ini hari libur tanggal muda sekalian membeli buah pisang buat oleh-olehآ kyai Hanif.

Sampai dirumah kyai Hanif, mustofa mengucap salam, dan kyai Hanif mempersilahkan ia masuk. mustofa memberikan buah pisang yang dibelinya untuk kyai Hanif. dan kyai Hanif menerimanya sembari mengucap alhamdulillah.

Mustofa yang masih penasaran soal rizki ALLAH, bertanya lagi kepada sang kyai, “kyai samapi saat ini saya belum menemukan jawaban dari masalah rizki ALLAH, bagaimana kyai bisa menjelaskan kepada saya?, agar saya memahaminya.

kyai Hanif mengambil buah pisang yang baru saja ia terima dari mustofa, “Ini” sambil menunjukkan pada mustofa, kemudian mustofa menjawab, “Itu khan buah pisang saya beli buat kyai, dan itu dibeli dari uang gaji saya kerja sebulan”.

kyai Hanif tersenyum, “Itu kamu, klo aku mendapatakan buah pisang ini tanpa mengeluarkan uang atau usaha apapun”, “bukankah kamu yang memberikannya padaku?”.

Sambil terdiam dan mengangguk-angguk mustofa baru memahami bahwa rizki ALLAH bisa datang dengan dicari bahkan bisa datang tanpa dicari, “terima kasih kyai, sekarang saya memahami apa yang kyai maksudkan”.

Add comment Juni 20, 2008

Previous Posts


klick Aja yg Bagus

Chairil anwar Islam agamaku Kahlil gibran ku lantunan hati lirik lagu mutiara jiwa PUisi Ws Rendra

Kalender

Juni 2008
M S S R K J S
    Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Masih Anget

Syair kehidupan

Perpusatakaan

Komentar sahabat

pqutcrirnrj di Mengapa kau tinggalkan aku…
Dhani di Rahasia Sholat 5waktu
aditkus di Orang – orang yang Didoa…
Anonymous di Lantunkan lagumu sahabat
rendra di Cukup setiaku untukmu
Diatmoko di Mistik dan Makrifat Sunan…
antika di KISAH NABI MUHAMMAD SAW
wati di Mistik dan Makrifat Sunan…
wati di Mistik dan Makrifat Sunan…
dani di KISAH NABI MUHAMMAD SAW
Anonymous di Mistik dan Makrifat Sunan…
riesty di Kata – Kata Mutiara
hamba ALLAH di Mistik dan Makrifat Sunan…
Anonymous di sampai aku tak merasakan …
unname di KISAH NABI MUHAMMAD SAW