Kamis, Juni 19th, 2008


Berdebar-debar dara melangkah kaki menyibak tanya
ada kabar apa?
selepas jingga menyampaikan seraut bayang yang terhalang cakrawala
tidak ada
selain selembar kertas
dan dara
menatapnya dengan mata berkaca
mengejanya satu persatu hingga teruntai jejak
yang timbul tenggelam
hingga sekarang.
Biarkan ia menjadi karang
mengukir bijak dalam kenangan
selembar kertas yang menguning
setia dalam lipatan
mengukur waktu dalam kesungguhan

Aku, disini aku memandang berkata atau berucap atas nama sebuah hati, jiwa ini hati ini adalah puisi atau perjalanan sang hati, apa yg aku cintai dan apa yg aku rasakan yg terindah di kala aku sampai menangis dan yg sesaat adalah di kala aku tertawa berteriak atau pada saat aku melantunkan lagu lagu cinta itu

Jangan pernah terperangkap kesunyian
Jangan biarkan diri sendiri jadi korban
Semua pasti ada jalan
Menuju perubahan ق€� Menuju kebahagiaan
Hidupkan hari dengan senyuman
Sebuah senyum pertama pada diri sendiri
Yang bertanda sebuah ketegaran hati
Lalu melangkahlah ke depan
Seiring dengan irama yang mengalun di hati
Menolehlah ke belakang
Seiring dengan gejolak yang mengoyak bersama kerisauan hati
Luluhkan diri dan biarkan ia mengalir bagai derasnya aliran sungai
Yanyikanlah [...]

Jika seseorang menertawaimu, kamu bisa mengasihinya; tetapi jika kamu menertawainya kamu mungkin tidak akan bisa memaafkan dirimu. Jika seseorang menyakitimu, kamu bisa melupakan sakitnya; tetapi jika kamu menyakiti dia, kamu akan selalu ingat. Sesungguhnya orang lain itu, bagian dari kamu yang paling sensitif dalam tubuh

Berdebar-debar dara melangkah kaki menyibak tanya
ada kabar apa?
selepas jingga menyampaikan seraut bayang yang terhalang cakrawala
tidak ada
selain selembar kertas
dan dara
menatapnya dengan mata berkaca
mengejanya satu persatu hingga teruntai jejak
yang timbul tenggelam
hingga sekarang.
Biarkan ia menjadi karang
mengukir bijak dalam kenangan
selembar kertas yang menguning
setia dalam lipatan
mengukur waktu dalam kesungguhan

Halaman Berikutnya »