Hukum Shalat Idul Fitri

Hukum Shalat Idul Fitri

Asssalammu’alaikum wr wb

Ustad, hukum shalat iedhul fitri maupun iedhul adha itu sunah atau wajib?

apa yg kita lakukan jika kita tidak sempat melaksanakannya? apa harus kita qadha lengkap dengan khutbahnya?

syukron

wass
………….
Wa’alaikumussalam wr. wb.

Saudara Arif yang dirahmati Allah swt

Shalat dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha hukumnya adalah sunnah muakkadah dikarenakan Rasulullah saw tidak pernah meninggalkannya di setiap hari raya. Hal itu berdasarkan apa yang diriwayatkan Imam Muslim dari Thalhah bin Ubaidullah berkata, “Seorang laki-laki dari penduduk Nejd yang rambutnya berdiri datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami mendengar gumaman suaranya, namun kami tidak dapat memahami sesuatu yang dia ucapkan hingga dia dekat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ternyata dia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Islam adalah shalat lima waktu siang dan malam.’ Dia bertanya lagi, ‘Apakah saya masih mempunyai kewajiban selain-Nya? ‘ Beliau menjawab: ‘Tidak, kecuali kamu melakukan shalat sunnah dan puasa Ramadlan.”..

Arti dari sunnah muakkadah adalah siapa yang mengerjakannya maka baginya pahala sedangkan siapa yang tidak melaksanakannya maka tidak ada dosa atasnya.

Sedangkan barangsiapa yang tidak melaksanakan shalat id; apakah diwajibkan atasnya mengqodho atau tidak ?

Didalam fatwanya, Markaz al Fatwa menyebukan bahwa waku shalat id dimulai sejak terbit matahari hingga tengah hari. Maka barangsiapa yang kehilangan shalat id bersama imam maka hendaklah dia mengerjakannya di waktu ini dan hal itu tetap dianggap dikerjakan pada waktunya (bukan qodho, pen) akan tetapi jika waktunya telah berlalu maka apakah disyariatkan baginya untuk mengqadhanya ? di sini terjadi perselisihan :

Imam Nawawi didalam “al Majmu’” mengatakan bahwa furu didalam madzhab-madzhab para ulama jika kehilangan shalat id maka telah kami sebutkan bahwa yang benar dari madzhab kami (Syafi’i) adalah dianjurkan baginya untuk mengqadhanya selamanya, ini juga diceritakan oleh Ibnu Mundzir dari Malik, Abu Tsaur.

Sementara al Abdariy menceritakan pendapat Malik, Abu Hanifah, al Mundziri, Daud bahwa ia tidak perlu diqadha.

Abu Yusuf dan Muhammad mengatakan bahwa ia diqadha pada hari keduanya sedangkan untuk hari raya diqadha pada hari kedua dan ketiga.

Para pengikut madzhab Abu Hanifah berkata,”Madzhabnya (Abu Hanifah) seperti madzhab mereka berdua (Abu Yusuf dan Muhammad, pen), jika orang yang kehilangan waktu shalatnya bersama imam baik pada waktunya atau setelah berlalu waktunya maka shalatlah dua rakaat seperti shalat seorang imam…” (Markaz al Fatwa 40983)

Dengan demikian bagi seseorang yang tidak melaksanakannya maka dianjurkan untuk mengqadhanya baik pada waktunya yaitu antara terbit matahari hingga tengah hari maupun setelah waktunya berlalu baik shalat itu dilakukan sendirian di rumahnya atau berjamaah.

Tata cara melaksanakan qadhanya sama dengan pelaksanaan shalat id sebagaimana biasanya yaitu dua rakaat dengan 7 kali takbir diluar takbirotul ihram pada rakaat pertama dan 5 kali takbir diluar takbir bangun dari sujud pada rakaat kedua dengan bacaan al fatihah serta surat dikeraskan tanpa khutbah kecuali jika dilakukan secara berjamaah.

Wallahu A’lam

19 Hadist Nabi Mengenai Wanita

19 Hadist Nabi Mengenai Wanita

Subhanallah ternyata wanita itu lebih mulia daripada laki-laki
mau tau alasannya kenapa wanita lebih mulia daripada laki-laki
simak beberapa hadist nabi mengenai wanita …:)

1. Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayangnya yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, “Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang
yang penyayang tidak akan sia-sia”.

2. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah mencatatkan baginya setiap hari dengan 1.000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1.000 kejahatan.

3. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.

4. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

5. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan..

6. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah.

7. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang sentiasa menangis karena takut akan Allah dan orang yang takut akan Allah, akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

8. Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak NabiIsmail.

9. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya(10. 000 tahun).

10. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana saja yang dikehendaki.

11. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1.000 lelaki yang soleh.

12. Aisyah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab Rasulullah, “Suaminya. “Siapa pula yang berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah, “Ibunya”.

13. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapakmu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung diudara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama dia taat kepada suami serta menjaga sembahyang dan puasanya.

15. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

16. Syurga itu di bawah tapak kaki ibu.

17. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku Nabi SAW) di dalam syurga.

18. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga.

19. Dari Aisyah r.a., Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.

SYUKUR DAN SABAR SIKAP TERBAIK DALAM MENJALANI HIDUP

SYUKUR DAN SABAR SIKAP TERBAIK DALAM MENJALANI HIDUP

Dalam mengarungi hidup, kita sering menghadapi persoalan, baik yang kecil maupun yang besar. Sesungguhnya, persoalan mendasar dari masalah hidup itu adalah cara kita memandang problematika hidup. Islam dengan segala ajarannya yang luhur sudah mengajarkan kita dua hal yaitu syukur dan sabar.

Tentang hal ini rasulullah bersabda : Dari Abi yahya Shuhaib bin Sinan RA. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya menakjubkan keadaan orang mu’min, karena segala urusannya sangat baik baginya, dan itu tidak akan terjadi kecuali bagi orang mu’min. Bila ia memperoleh kesenangan, ia bersyukur, yang demikian itu baik baginya. Dan bila ia tertimpa kesusahan ia juga bersabar, yang demikian itupun baik baginya”.

Syarah Hadits

Hadits diatas diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab Zuhud Bab Urusan Orang Mu’min Semuanya Baik. Sanad hadits ini disandarkan kepada Abu Yahya Shuhaib bin Sinan RA. Ia digelari Abu Yahya oleh Rasulullah SAW. Konon ia juga bergelar Ar-Rumi, tentang ini ada yang mengatakan ia menjadi budak milik orang romawi sejak kecil, ia kemudian dibeli oleh Abdullah bin Jad’an, lalu dimerdekakan. Ada juga yang mengatakan Shuhaib ini lari dari Romawi saat ia dewasa. Ia kemudian dating ke kota Mekkah, bertemu Abdullah bin Jad’an dan mengikutinya. Ia masuk Islam ketika Rasulullah belum lama diangkat menjadi nabi dan Rasul, sehingga ia termasuk orang yang mula-mula masuk islam (as-shabiqunal awwalun). Shuhaib meriwayatkan 30 hadits dari Rasulullah. Ia wafat di madinah dalam usia 73 tahun pada tahun 38 atau 39 H dan dimakamkan di madinah.

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran. Pertama, setiap orang yang mengaku beriman harus menyakini bahwa iman sempurna yang dipegangteguh olehnya berdampak kebaikan pada setiap gerak dan langkahnya. Ketika mendapatkan kebaikan yang membuatnya senang, ia pandai mensyukurinya. Dengan mengucapkan Al-hamdulillah dan bersyukur dengan segenap hati, kemudian bersyukur dengan menggunakan seluruh anggota tubuh, berbagi dengan orang lain dan bersyukur dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul_Nya.

“Barang siapa bersyukur, sesungguhnya syukurnya itu untuk dirinya sendiri” (Q.S. An-Naml : 40).

Begitu juga ketika ditimpa kesusahan, ia menyikapinya dengan sabar. Sabar yang terbaik adalah, saat kesusahan itu tiba dan menghenyakkan batin serta perasaannya, ia menyikapinya dengan sabar. Rasul pernah bersabda “Sesungguhnya sabar itu adalah saat hentakan pertama.” Suatu ketika sayyidina Ali bertempur dalam duel yang hebat, orag kafir yang dilawannya terdesak dan terjatuh, sayyidina Ali berkesempatan menghabisinya. Saat ia mengulurkan pedangnya kearah musuh, orang kafir itu meludahinya. Ternyata bukannya marah sayyidina Ali malah mengurungkan niatnya dan bersabar. Beliau khawatir jihadnya jadi tidak bermakna apa-apa, karena terdorong rasa kesal dan amarah.akibat diludahi.

Itulah karakter orang mu’min yang sempurna, ia mampu menunjukan sikap sabar meskipun menghadapi situasi yang sangat menyakitkan dirinya.

“Bersabarlah dengan kesabaran yang baik (Q.S. Al-Ma’arij : 5)

begitulah syukur dan sabar yang baik, yang memberikan kebaikan dunia dan akhirat.

KEUTAMAAN SABAR

KEUTAMAAN SABAR

Sabar itu mudah diucapkan, tetapi sulit diterapkan. Ketika ditanya tetntang defenisi sabar, sufi terkemuka Dzun-nun Al-Mishri berkata “ Sabar ialah menajuhi perselisihan, bersikap tenang dalam menghadapi cobaan yang menyesakkan hati, dan menampakkan rasa kecukupan ketika ditimpa kesusahan dalam kehidupan”.

Sementara itu, Ar-Raghib Al-Ashfihani mengatakan bahwa sabar memiliki ma’na yang berbeda sesuai dengan konteks kejadiannya. Menahan diri saat ditimpa musibah dinamakan shabr (sabar), sedangkan lawan katanya jaza’ (gelisah, cemas, risau), menahan diri dalam peperangan dinamakan syaja’ah (keberanian) dan lawan katanya jubn (pengecut, lari dari peperangan) menahan diri dari kata-kata kasar disebut kitman (diam) dan lawan katanya ihdzar atau hadzar (mengecam, marah). Namun makna umum menahan diri dalam berbagai keadaan tersebut adalah sabar.

Al-Imam An-Nawawi mengetengahkan beberapa ayat yang berkenaan dengan sabar seperti berikut ini: “wahai sekalian orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu sekalian dan teguhkanlah kesabaranmu itu dan tetaplah bersiap siaga” (Q.S. Ali Imran : 200).

Ayat ini memerintahkan kaum muslimin untuk bersabar dalam menjalani ketaatan saat mengalami musibah, menahan diri dari keinginan berbuat maksiat dengan jalan beribadah dan berjuang melawan kekufuran, serta bersiap siaga penuh untuk berjihad di jalan Allah SWT. Tentang bersiaga berjihad ini, Sahl bin Sa’ad meriwayatkan bahwa Rasul SAW bersabda, “Satu hari berjihad di jalan Allah itu lebih baik ketimbang dunia dengan segala isinya” (HR. Al-Bukhari dan At-Tirmidzi).

Di dalam Al-qur’an Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepada kamu sekalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (Q.S. Al-Baqarah: 155).

Pada ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa ia akan menguji hambaNya sepanjang hidup mereka, dengan rasa takut. Kemiskinan dan sebagainya. Dengan demikian akan tampak mana hamba Allah yang taat dan manapula yang kufur. Tentu hamba Allah yang teguh dalam ketaatan kepadaNya mendapat kabar gembira bagi mereka. Apakah kabar gembira tersebut? Allah berfirman : “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahalanya tanpa batas” (Q.S. Az-Zumar).

Tentang ayat ini, sayyidina Ali r.a. menerangkan bahwa setiap orang yang mencapai derajat muthi’ (orang yang taat), kelak akan ditimbang amalnya dengan timbangan atau takaran. Berbeda dengan orang yang berderajat Shabir (orang yang sabar), mereka ini mengeruk pahala laksana mengeruk debu yang tidak terhitung jumlahnya.

Dari Abu Malik Al-Harits bin ‘Ashim Al-Asy’ari r.a., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bersuci adalah bagian dari iman, kalimat Alhamdulillah dapat memenuhi timbangan, kalimat Subhanallah dan Alhamdulillah itu dapat memenuhi apa yang ada diantara langit dan bumi, sholat adalah cahaya, shadaqah adalah bukti iman, sabar adalah pelita dan Al-Qur’an adalah hujjah (argumentasi) terhadap apa yang kamu sukai maupun yang tidak kamu sukai. Semua orang pada waktu pagi menjual dirinya, ada yang membebaskan dirinya, dan ada pula yang membinasakan dirinya” (H.R. Imam Muslim).

Syarah Hadits

Sanad dalam hadits di atas menyebutkan nama Abu Malik yang memiliki banyak nama. Menurut pengarang Dalil Al-Falihin, ada yang menyebutkan namanya Ka’ab, Ubaid, Ubaidillah dan ‘Amr. Sementara itu, menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, ada dua nama yang paling masyhur, Al-Harits bin Al-Harits dan Ka’ab bin ‘Ashim. Sebutan Al-Asy’ari merujuk kepada kabilah moyangnya, yang ada di Yaman, yaitu Al-Asy’ar. Abu Malik ini meriwayatkan 27 hadits dari Nabi SAW. Salah satunya hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya pada bab keutamaan Thaharah (bersuci).

Hadits diatas mengetengahkan sejumlah nasehat, yakni keutamaan bersuci/wudhu, dan keutamaan berdzikir, seperti ucapan Alhamdulillah yang dapat memenuhi timbangan amal, kemudian Subhanallah wal hamdulillah yang pahalanya memenuhi seisi langit dan bumi jika ditimbang. Hadits ini juga menganjurkan muslimin untuk memperbanyak sholat karena sholat dapat menjadi penerang untuk menunjukan jalan keselamatan dalam hidup dan dapat mencegah perbuatan munkar.

Dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menjaga sholatnya secara rutin, ia memiliki cahaya, bukti keimanan, dan keselamatan pada hari kiamat”. Dalam teks hadits diatas juga disebutkan pula bahwa shodaqoh merupakan bukti nyata seorang mu’min yang jujur dan ikhlas.

Berikutnya disebutkan keutamaan sabar laksana cahaya yang bersinar yang dapat menghilangkan kegelapan dan kesukaran hidup. Al-Qur’an menjadi hujjah pembenaran bagi yang taat menjalani amar ma’ruf nahi munkar dan dapat pula menjadi pengadil atas kejahatan yang dilakukan seseorang. Seorang muslim harus senantiasa berusaha menggunakan umurnya dalam ketaatan kepada Allah SWT. Yang ditemui hamba Allah seorang hamba Allah dalam kehidupan hanyalah dua hal apa yang disukai oleh keinginannya dan apa yang tidak disukai oleh keinginannya, dan bahkan harus dibencinya. Oleh karena itu obatnya adalah bersabar menghadapi hal itu.

Dari Abu Sa’id Sa’d bin Malik bin Sinan Al-Khudry r.a. disebutkan bahwa ada beberapa orang sahabat Anshar meminta kepada Rasulullah SAW, maka beliau memberinya. Kemudian mereka meminta lagi dan beliau pun memberinya. Maka habislah apa yang ada pada beliau. Setelah beliau memberikan semua apa yang ada ditangannya, beliau bersabda kepada mereka “Apapun kebaikan yang ada padaku tidak akan aku sembunyikan kepada kamu sekalian. Barang siapa menjaga kehormatan dirinya, Allah pun akan memberikan kesabaran kepadanya dan seseorang itu tidak akan mendapatkan anugerah yang lebih baik dan lebih lapang dibandingkan kesabaran” (Muttafaq ‘alaih).

Syarah Hadits

Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam bab menjaga kehormatan diri dari meminta-minta. Sedangkan Imam Muslim meriwayatkannya pada bab keutamaan menjaga kehormatan diri dan bersabar. Hadits ini mengandung beberapa pelajaran. Yang pertama kemulian hati Nabi Muhammad SAW yang tak pernah menolak jika orang meminta sesuatu yang dimilikinya. Yang kedua adalah orang yang kaya adalah orang yang kaya hati dan jiwa, bukan harta yang berlimpah, sehingga orang tersebut dikenal menjaga ‘Iffah (kehormatan diri) dan qana’ah (merasa cukup). Yang ketiga kemuliaan akhlaq dan keluhuran sifat dapat diperoleh bila seseorang memiliki sifat sabar, yakni sabar dari segala hal yang memberatkan hidup semata-mata taat kepada Allah. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ad-Dailami dari Anas bin Malikr.r.a.di sebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Kesabaran adalah setengah dari Iman”. Menurut pengarang Faidh Al-Qadir, iman seseorang boleh jadi hanya pada dua hal, keridhaan dan kesabaran, ia ridha untuk menjalani perintah Allah yang memberatkan dirinya dan sabar untuk menjauhkan larangan Allah yang merongrong keinginan hawa nafsunya.

Mutiara Nasehat

Mutiara Nasehat

Halaman ini memuat beberapa untaian mutiara nasehat yang diambil dari Al-Qur’an, As-Sunnah, perkataan para ulama dan sumber-sumber lain yang terpercaya.

  • Amalan yang paling disukai Allah adalah amalan yang terus-menerus meskipun sedikit. (HR. Bukhari, Muslim)
  • Orang yang bijak bukanlah orang yang bisa berkata-kata dengan indah, tapi orang bijak adalah orang yang perbuatannya selalu diisi dengan keikhlasan.
  • Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 261)
  • Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, didzalimi lalu memaafkan dan mendzalimi lalu istighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang yang memperoleh hidayah-Nya. Maka, bersabarlah karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.
  • Keutamaan sholat seseorang di rumahnya dibandingkan sholatnya ketika terlihat manusia sama dengan keutamaan sholat fardhu terhadap sholat sunnah. (HR. Baihaqi, shahih Targhib wa Tarhib no. 441)
  • Barangsiapa yang sholat ‘Isya berjamaah maka dia seperti sholat setengah malam. Dan barangsiapa yang sholat ‘Isya dan Shubuh berjama’ah maka dia seperti sholat semalaman. (HR. Abu Dawud, Shahihul Jami’ no. 6342)
  • Barangsiapa yang memintakan ampus bagi kaum mukminin dan mukminat, maka Allah akan menulis baginya untuk setiap mukmin dan mukminat satu kebaikan. (HR. Thabrani, Shahihul Jami’ no. 6026)
  • Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka, dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka dia akan mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka. (HR. Muslim)
  • Ramadhan telah meninggalkan kita dengan menyisakan duka yang mendalam serta menghadirkan kerinduan pada hamba-hamba yang senantiasa dekat denganNya. Semoga kita dapat bertemu kembali dengan Ramadhan yang akan datang dengan keimanan yang lebih baik dari sebelumnya.
  • Setiap cobaan yang kita terima, berusahalah menerimanya dengan berbaik sangka kepada Allah, dengan begitu Insya Allah kita akan mampu ikhlas untuk menerimanya.
  • Sejauh mana kecintaan seorang hamba terhadap dunia dan keridho’an terhadapnya, maka akan membuatnya berat melakukan ketaatan kepada Allah dan tidak lagi mengharapkan akhirat.
  • Orang yang bahagia tidak dilihat dari kekayaan hartanya, tapi orang yang bahagia adalah orang yang kaya imannya kepada Allah.
  • Jika tali telah menegang kencang itu pertanda akan putus, jika malam telah pekat, maka kegelapan itu akan segera pergi. Jika sebuah masalah sudah sangat menghimpit, pertanda akan segera ada jalan keluar dan sesungguhnya satu kesulitan tidak pernah mengalahkan dua kemudahan.
  • Sesungguhnya hidup ini adalah rangkaian ujian yang tiada henti, sedangkan seberat-berat ujian adalah kelapangan, kemudahan, pujian dan hal-hal yang lebih membuat kita lalai dan lupa kepada Allah.
  • Jangan pernah merasa lebih mulia dari orang lain karena kemuliaan seseorang tidak ada yang tahu kecuali Allah.
  • Bila engkau mendapatkan kesempatan berbuat baik, lakukanlah kebaikan itu meski sekali, niscaya engkau akan menjadi ahlinya.
  • Sesungguhnya nafas kita terus berjalan, setia menuntun ke pintu kematian, hari demi hari digulung tanpa henti, padahal tahap yang kita miliki tidak ada yang lebih meyakinkan selain kematian.
  • Kekayaan bukanlah suatu kemuliaan, kemiskinan bukanlah suatu kehinaan, keduanya merupakan ujian dari Rabb Yang Maha Tinggi untuk mengetahui hamba-hambaNya yang bertakwa.